Puasa Bisa Jadi Cara Efektif Mengelola Amarah Lho, Bun

Jakarta – Cukup banyak orang mengatakan banyak godaan di bulan puasa. Alhasil, emosi mudah tersulut. Padahal, sejatinya berpuasa di bulan Ramadhan bisa jadi cara efektif mengelola kesabaran lho, Bunda.

Seperti yang disampaikan Ameera Al Ishaq, psikolog klinis, dan wakil kepala unit layanan psikologis di Hamad Medical Corporation (HMC). Menurutnya, puasa selama bulan suci Ramadhan dapat menjadi cara efektif mengelola depresi dan amarah. Selain itu, untuk memperkuat kemampuan menahan diri serta berlatih sabar.

“Tradisi sosial dalam berpuasa memiliki sejumlah manfaat mental dan emosional. Selama Ramadhan, keluarga duduk bersama untuk berbuka puasa setiap malam dan banyak aspek komunal Ramadhan lainnya telah terbukti berdampak pada kesehatan mental secara positif,” kata Ameera mengutip MenaFN

Ameera mengatakan, manfaat berpuasa di Bulan Ramadhan ini sangat terasa bagi mereka yang mengalami depresi dan kesepian. Berpuasa bisa lebih mendekatkan seseorang dengan keluarga dan kelompok sosial. Nah, kondisi seperti itu bermanfaat dalam mengelola depresi atau kecemasan.

[Gambas:Instagram]

“Puasa bisa jadi cara alami meringankan gejala gangguan kesehatan mental. Ramadhan juga dapat menjadi waktu yang tepat untuk menghentikan kebiasaan tidak sehat seperti merokok dan membangun kebiasaan baru yang sehat,” kata Ameera menambahkan.

Kalau kehidupan sehari-hari membuat kita tertekan, kata dia, berpuasa serta praktik spiritual dan kehidupan sosial lainnya bisa membantu mengatasinya. Selain itu, berpuasa dapat membantu meningkatkan pengendalian diri dan mendukung manajemen kemarahan pada individu yang mudah marah.

“Puasa dan ibadah lainnya, seperti Tarawih, mendorong komunikasi dan interaksi sosial. Bagi banyak orang, doa, dan beribadah bersama-sama dapat memiliki efek menenangkan,” kata Ameera.

Dia mencatat, Alquran dan hadis juga memberikan panduan yang bermanfaat untuk mengatasi berbagai emosi, termasuk kemarahan. Bahkan, Nabi Muhammad memberikan panduan tentang bagaimana mengendalikan amarah dan mengatasi kecenderungan untuk menjadi marah.

“Kita dibimbing untuk duduk, memecahkan urutan peristiwa, dan mencari perlindungan kepada Allah sebagai cara untuk mengatasi kemarahan masa lalu. Disarankan, orang-orang beriman untuk wudlu karena ini akan membantu mereka menjauh dari kemarahan dan memberi waktu serta ruang untuk berpikir sebelum berbicara atau bereaksi,” kata Ameera.

Emosi seperti marah dan cemas itu menurut Ameera enggak main-main efeknya ke tubuh kita dalam jangka panjang. Misalnya peningkatan denyut jantung, tekanan darah tinggi, penyempitan pembuluh darah, dan peningkatan pembekuan darah, yang semuanya bisa menjadi pemicu serangan jantung.

Sementara itu, dr.Andri, SpKJ, dari RS Omni Alam Sutera, mengatakan di bulan puasa emosi negatif seperti marah dan kesal sebaiknya ditekan. Sementara itu, emosi positif seperti rasa senang, bersyukur, dan empati kepada sesama harus ditingkatkan.

“Cara nguranginnya gimana? Pertama, kita harus sadar, eling, aware, bahwa hal-hal tidak baik seperti marah dan berbohong merupakan perbuatan yang menurunkan hal-hal baik dari diri kita sendiri,” ungkap dr Andri mengutip detikcom.

Hanya saja, hal ini akan bisa dicapai jika puasa dilakukan dengan niat tersebut. Jika puasa dilakukan hanya karena malu atau dipaksa oleh orang lain, maka tidak ada manfaatnya untuk kesehatan jiwa.

[Gambas:Video Haibunda]

(rdn/rdn) BERITA INI TELAH TAYANG DI SITUS BERITA HAI BUNDA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori